KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK

  Nama : Dicky Nurohman

Nim : 1191222

Kelas : PAI 4E

Makul : Magang 1

Assalamualaikum warohmatullahiwabarakatuh 

Perkenalkan nama saya Dicky Nurohman [1191222] kelas PAI 4E, disini saya akan menjelaskan mengenai Karakteristik Peserta Didik, yang telah saya rangkum sebagai berikut:


Karakteristik Peserta Didik

Hakekat Peserta Didik 

Dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa Pendidikan dipahami sebagai usaha sadar dan terencana dalam rangka mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran. Proses pembelajaran berorientasi pada peserta didik untuk mengembangkan potensi yang dimiliki seperti memiliki ;

Kekuatan spiritual keagamaan;

Pendendalian diri; 

Kepribadian;

Kecerdasan;

Akhlak mulia; dan

Keterampilan (Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003). 

Elemen penting dalam Undang-Undang Sistem Pendidkan Nasional ini menjadi barometer keberhasilan pembelajaran dan dunia pendidikan nasional. Artinya, sistem pendidikan nasional bertanggung jawab dalam menentukan masa depan anak-anak. Masa depan mereka akan menentukan masa depan bangsa. Untuk itu, memahami anak didik perlu dilakukan secara komprehensif. Dalam pendekatan pembelajara modern, anak bukanlah obyek pembelajaran. Anak menjadi faktor penting pembelajaran dan sekaligus menjadi subyek pembelajaran. Anak mengikuti pembelajaran dan sekaligus berpartisipasi langsung dalam proses pembelajaran. Kerangka ideal tersebut tercapai apabila pembelajaran dilakukan oleh tenaga pendidik profesional.

Menurut Ahli

Menurut Pearsons & Sardo, menjadi guru berarti bersedia dan mampu mengenali anak didiknya. Itu sebabnya, mengenal anak merupakan hal yang penting, karena setiap anak memiliki keunikan (Pearsons & Sardo, 2006). Realitasnya, kemampuan tenaga pendidik termasuk tenaga pendidik yang telah masuk kategori professional, kadangkala bertolak belakang dengan harapan ideal.

Menurut Arends & Kilcher (2010), dalam pespektif biologis, anak memiliki karakteristik dan keunikan antara yang satu dan yang lainnya. Dalam perspektif bioologis dipahami bahwa bahwa setiap anak (orang) memiliki otak. Otak merupakan bagian organ yang penting dalam tubuh manusia. Otak memuat semua informasi yang telah diolah. Otak merupakan pusat sumber penerima dan pengolah informasi yang masuk. 

Beberapa hal yang perlu dilakukan dalam pendidikan berkaitan dengan karakteristik siswa belajar yaitu:

 (1) Perlu adanya evolusi pemikiran berkaitan dengan belajar dan cara mengajar. 

(2) Perspektif  biologis, berdasarkan teori dan penelitian di ilmu saraf, memberikan wawasan baru tentang otak dan fungsinya. Teori ini dan penelitian, meskipun kadang-kadang berlebihan, memiliki implikasi penting untuk kelas praktek di daerah seperti bagaimana otak tumbuh dan menyaring rangsangan dari lingkungan, bagaimana menyimpan pengetahuan dan membuat makna, dan emosi peran penting dan perasaan bermain di pembelajaran kognitif.

(3) Penemuan dalam psikologi kognitif memberikan pemahaman penting tentang bagaimana pembelajaran terjadi di dalam kelas. Kami memiliki pemahaman yang cukup kuat tentang bagaimana memori dan sistem pengolahan informasi bekerja untuk mengumpulkan, menafsirkan, toko, dan mempertahankan Informasi. 

(4) Bersama-sama, perspektif biologis dan kognitif membantu kita memahami pentingnya kecerdasan ganda, gaya belajar, kesiapan dan pengetahuan, dan metakognisi. Perspektif ini menyoroti pentingnya memperhatikan perhatian, mengajar untuk transfer, dan membantu siswa belajar cara belajar.

C. Peran Guru dalam Memahami Karakteristik Peserta Didik

Tenaga pendidik (guru) memegang peran penting dalam proses pembelajaran di kelas dan bahkan dalam meningkatkan kualitas Pendidikan di sebuah sekolah, daerah, dan nasional. Guru sebagai komponen kunci dalam proses pendidik dituntut untuk mampu menyelenggarakan proses pembelajaran yang mendidik. Peran besar inilah yang dituntut dari guru, khususnya dalam pembentukan karakter anak maupun karakter bangsa. Karakter yangdiharapkan bukan hanya memiliki kecerdasan dan keterampilan, tetapi karakter akhlak mulida dan spritualitas-keagamaan. Dalam menggapai tujuan itu, implikasi proses belajar diarahkan pada proses pembelajara yang berorientasi pada anak didik.

Faktor-faktor yang dianggap sebagai penyebab anak didik menjadi “agak nakal” seperti; [1] mental anak belum stabil; [2] dominasi faktor lingkungan; [3] keadaan lingkungan keluarga tidak kondusif; [4] pengaruh teman sebaya; dan [5] faktor bawaan.

Menurut Janawi, yang terpenting dipahami guru sebenarnya adalah bagaimana memahami dunia anak, karakteristik anak, dan proses pendidikan anak. Setiap anak memiliki persaman dan perbedaan. Periodesasi pertumbuhan dan perkembangan anak perlu dipahami guru secara totalitas (Janawi, 2009). Yang terpenting adalah anak menjadi pusat perhatian. Sebagaimana telah diulas sebelumnya, bahwa peserta didik memiliki karakteristik tersendiri. 

Potensi yang dimiliki peserta didik dapat dikembangkan apabila tenaga pendidik dapat memahami perbedaan-perbedaan tersebut. Walaupun Dalam sistem Pendidikan nasional, sistem klasikal masih menjadi ciri utama, namun tuntutan untuk memahami karakter dan perbedan potensi anak semakin dituntut. 

Proses pembelajaran akan berlangsung dengan baik apabila guru mampu memahami karakter anak dengan dengan baik. Karakter penting yang perlu dipahami dalam proses pembelajaran diantaranya adalah, 

1. Mengidentifikasi karakter fisik dan non fisik anak didik di kelas.

Anak merupakan individu yang masih dalam proses pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan mengarah pada fisik, sedangkan perkembangan mengacu pada fungsi-fungsi organ dan non fisik. 

Karakter fisik merupakan sesuatu ciri yang mudah diamati, seperti ciri-ciri fisik (keadaan kaki, mata, tangan, berkemampuan khusus, dan lainnya). Dalam proses pembelajaran, tenaga pendidik tidak boleh melalaikan unsur tersebut. Karena unsur itu akan berimplikasi pada pengelolaan kelas yang pada akhirnya berdampak pada pencapaian tujuan belajar. Pertumbuhan dan perkembangan anak tidak selalu linear. Pada beberapa kasus, pertumbuhan dan perkembangan mengalami keterlambatan atau ketidakseimbangan, seperti sosio emosional anak.

2. Mengidentifikasi karakteristik belajar setiap peserta didik di kelasnya. Anak memiliki karakteristik tersendiri dalam belajar. Karakteristik ini tidak lepas dari beberapa hal seperti bakat, minat, lingkungan anak, gaya belajar, intlegensia anak, dan lainnya. 

3. Memastikan semua peserta didik mendapatkan kesempatan yang sama untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran.

Dalam paradigma Pendidikan modern, guru bukan lah “pengajar”, tetapi guru adalah fasilitator dan motivator. Pendidik profesional harus mampu memberi peran besar sebagai fasilitator. Tenaga pendidik memberikan kesempatan yang sama kepada anak didik, agar anak didik dapat berpartisipasi secara maksimal dalam proses pembelajaran.

4. Mengatur kelas untuk memberikan kesempatan belajar yang sama pada semua peserta didik dengan kelainan fisik dan kemampuan belajar yang berbeda. Mengatur kelas berkaitan dengan pengelolaan kelas. Beberapa hal yang penting diatur seperti :

a. Tempat/posisi duduk anak. Tempat duduk perlu disesuaikan dengan keadaan fisik maupun nonfisik anak. Contoh, ukuran tinggi badan anak bila kelas menggunakan sistem deret, penglihatan anak, pendengaran anak dan lainnya.

b. Penerangan kelas

c. Mobilitas pendidik

d. Posisi media pembelajaran

5. Mencoba mengetahui penyebab penyimpangan perilaku peserta didik untuk mencegah agar perilaku tersebut tidak merugikan peserta didik lainnya.

Anak memiliki karakter perilaku yang berbeda. Penyimpangan perilaku tidak dianggap sesuatu yang aib. Bila ada tanda-tanda penyimpangan perilaku, maka pendidik mengupayakan melakukan konseling terhadap anak. Bahkan pendidik dan pihak sekolah haus mengupayakan melakukan upaya-upaya dan pendekatan psikologis. Pemantauan dan kontrol dilakukan secara terus menerus.

6. Membantu mengembangkan potensi dan mengatasi kekurangan dan keterlambatan pemahaman peserta didik.

Anak memiliki perbedaan potensi. Potensi yang dimaksudkan disini dapat berupa kecenderungan minat, bakat, dan keterlambatan dalam merespon pembelajaran. Kelemahan pembelajaran sistem klasikal adalah agak lamban merespon perbedaan-perbedan individual. Untuk mengetahui anak lebih awal perkembangan anak, pendidik dan pihak sekolah dianjurkan bekerjasama dengan pihak-pihak tertentu untuk mengetahui sedini mungkin potensi-potensi yang dimiliki anak. Pihak-pihak tersebut diantaranya adalah psikolog. Test-test psikologis dianggap penting untuk mengetahui keadaan anak sehingga pendidik dan sekolah dapat memberikan pendekatan yang mampu memaksimalkan proses pembelajaran.

7. Memperhatikan peserta didik dengan kelemahan fisik tertentu agar dapat mengikuti aktivitas pembelajaran, sehingga peserta didik tersebut tidak termarginalkan (tersisihkan, diolok‐olok, minder, dsb).

Anak memiliki kesempatan yang sama dalam proses pembelajaran. Kelemahan fisik bukan menjadi alasan pembelajaran. Kelemahan fisik atau keterbatasan fisik anak tentu menuntun cara, metode, strategi dan bahkan pendekatan yang akan dilakukan dalam pembelajaran. Menguasai karakteristik peserta didik berhubungan dengan kemampuan guru dalam memahami kondisi anak didik. Anak dalam dunia pendidikan modern adalah subyek dalam proses pembelajaran. Anak tidak dilihat sebagai obyek pendidikan, karena anak merupakan sosok individu yang membutuhkan perhatian dan sekaligus berpartisipasi dalam proses pembelajaran. Anak jugamemiliki karakteristik tersendiri yang berbeda satu dengan yang lainnya baik dari segi minat, bakat,motivasi, daya serap mengikuti pelajaran, tingkat perkem- bangan, tingkat inteligensi, dan memiliki perkembangan sosial tersendiri.

Anak memiliki karakteristik masing-masing yang berbeda satu dengan yang lainnya. Perbedaan karakteristik membutuhkan perhatian dan pendekatan yang berbeda. Walaupun sistem pendidikan masih menerapkan sistem klasikal, namun guru dituntut untuk memberikan perhatian tertentu pada anak didiknya dalam proses pembelajaran. Di satu sisi guru memberikan perhatian kepada seluruh anak yang ada dalam proses pembelajaran di kelas, di sisi lain guru harus memberikan perhatian khusus pada anak-anak tertentu. Oleh karena itu, guru harus menguasai teori dan prinsip-prinsip pembelajaran.

Mengembangkan Karakteristik Pembelajaran yang Mendidik 

Para praktisi pembelajaran terus berupaya mengembangkan model-model pembelajaran yang mampu mengoptimalkan partisipasi peserta didik dalam proses pembelajaran. Sebagaimana disebutkan di awal, indikator karakteristik anak dapat ditinjau dari beberapa factor. Faktor utama dapat dilakukan melalui;

Pertama, mengidentifikasi karakteristik belajar setiap peserta didik di kelasnya. Walaupun sistem pembelajaran kita (Indonesia) masih menganut sistem klasikal, namun karakteristik perbedaan dan persamaan individual penting diperhatikan oleh guru. Identifikasi tidak hanya tertumpu pada aspek fisik, seperti berat badan, jenis kelamin, kelainan fisik, namun identifikasi nonfisik tidak dapat diabaikan. Karakteristik nonfisik dapat berupa mental, emosional, potensi/bakat, termasuk disabilitas mental. 

Kedua, semua peserta didik mendapatkan kesempatan yang sama berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran. Kesempatan diberikan kepada semua peserta dalam proses pembelajaran. Guru perlu menjamin untuk tidak adanya deskriminasi perlakuan dalam proses pembelajaran. Untuk mewujudkan ini, guru perlu menggunakan berbagai pendekatan, metode, dan model-model pembelajaran. 

Ketiga, mengelola kelas. Penempatan kursi akan lebih berarti bagi terciptana pembelajaran yang baik. Kelas perlu mempertimbangkan jumlah peserta didik, materi, dan metode yang akan digunakan. Hendaknya, format kursi danlam ruangan dapat dirubah. Bahkan pembelajaran tidak selamanya dilakukan dalam kelas. Penempatan kursi dapat berpengaruh pada partisipasi belajar anak. Pengaturan kursi semakin dibutuhkan apabila ada peserta didik mengalami kelainan fisik. Hal-hal yang seperti ini kurang diperhatikan dalam proses pembelajaran. Padahal, prinsip pembelajaran modern adalah memberikan kesempatan yang sama bagi semua peserta didik untuk mengikuti proses pembelajaran dengan baik. 

Keempat, mengetahui penyebab penyimpangan perilaku peserta didik. Guru tidak hanya menyampaikan pembelajaran yang bersifat kognitif. Guru perlu memperhatikan kelainan perilaku anak. Guru juga harus bertindak sebagai konselor. Penyimpangan perilaku tidak dapat dibiarkan. Penyimpangan perilaku perlu diobservasi dan didiagnostik. Bila guru tidak memiliki pengetahuan yang memadai tentang perilaku, maka guru perlu bekerjasama dengan guru lain, seperti guru Bimbingan dan Konseling. 

Kelima, membantu mengembangkan potensi dan mengatasi kekurangan peserta didik. Potensi anak didik dapat dilakukan dengan melakukan berbagai tes kepribadian dan tes bakat minat. Namun persoalan besar dalam system pembelajaran kasikal, potensi, bakat dan minat kurang dieksplorasi sebagai penciri karakteristik anak. 

Keenam, memperhatikan peserta didik dengan kelemahan fisik tertentu. Kelemahan fisik dapat diantisipasi melalu pengaturan kelas yang beorientasi pada kebutuhan anak. Bila ini diabaikan, maka anak yang mengalami kelainan fisik sulit mengikuti aktivitas pembelajaran. Dampaknya, peserta didik tersebut termarginalkan (tersisihkan, diolok‐olok, minder, dan lain sebagainya). Banyak kejadian dalam dunia penddikan, sikap malu, takut, dan merasa tersisih, diakibatkan oleh perilaku teman kelas. 

Kenam faktor diatas menjadi signfikan untuk diperhatikan guru. Di samping itu, Perubahan paradigma pembelajaran dijadikan sebagai langkah inovatif. Perubahan paradigma dilakukan seiring dengan perubahan era dan kemajuan teknologi. Perubahan paradigma dikonstruksikan sebagai upaya melakukan perubahan proses pembelajaran. Dalam konteks pembelajaran yang mendidik, berbagai pendekatan telah dilakukan oleh pendidik, sekolah, dan penentu kebijakan.


https://jurnal.lp2msasbabel.ac.id/index.php/tar/article/view/1236



Komentar

Postingan populer dari blog ini

KULTUR SEKOLAH

Manajemen Sekolah